06 September jam 18:36kumencoba menyusuri jalan perasaanku. yang terkadang pilu, sendu dan menyesakkan. di ujung jalan itu. kuterawang hatiku, jiwaku, batinku yang jauh dari sempurna. sementara itu. waktu terus mengejarku, memangkas setiap umur yang tersisa. dan apa yang kukerjakan, seperti tetes air di tengah samudra. sedikit saja. Semoga ...besok mentari masih bersinar, dengan wajah yg lebih ceria.Kep. Sekolah
14 September jam 6:46
Di kota kecil ini. Kumencoba mengais secuil
kenangan yang pernah tersisa. Bahwa, aku pernah mengarungi ini, dari sekian jagad yang diciptakan Allah. Tak bisa kubohongi aku kesepian. Semua sahabatku semburat ke segala arah. Nenek moyangku tinggal cerita. Guru-guruku telah lama pergi, ataupun kalau ada sudah renta. Tapi,... setiap sisi laut, tebing tidak berubah. Aku cuma menunggu....! Kep. Sekolah
14 September jam 6:53
Menunggu sebuah giliran. Pada saatnya, itulah kalimat yang pas. Sebuah titik akhir dari perjalanan panjang, jika diukur dengan rentangan detik. Tapi cukup pendek jika dihitung dengan rentangan abad. Dan, baru setitik saja dari hamparan yang maha luas, sebuah kebaikan mampu aku cipta. Setiap hari adalah renungan, untuk ...mencoba mawasdiri dan introspeksi. Semoga hari esok lebih ceria...Kep. Sekolah
24 September jam 18:56
Aku rindu pada biru langit. Atau, matahari yang tersenyum merekah. Di kala pagi merentang cerah. Aku juga rindu pada bunga. Di kala kelopaknya terbuka putih, merah. Aku mencoba menanam bunga di kebun hatiku. Kurawat, kusirami. Biar kelak aku bisa memandangi setiap waktu. Di kala hatiku sedih. Di kala jiwaku perih, meri...ntih. Di kala aku seorang diri, sendiri. Dan mempertanggungjawabkan kehadirat Illahi Robbi. Kep. Sekolah




0 komentar:
Posting Komentar